Peringatan serangan umum satu Maret di Yogyakarta tidak hanya diperingati dengan upacara bendera saja.
Ratusan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Yogyakarta memperingati peristiwa tersebut dengan aksi mengajak masyarakat kembali melestarikan budaya minum jamu gendong.
Aksi yang bertajuk 'Serangan Oemoem Jamu Gendong' ini digelar di titik nol kilometer Yogyakarta, Jumat (1/3). Ratusan siswa ini berasal dari SMK Amanah Husada dan LPK Amanah Husada Yogyakarta.
Dalam aksinya, ratusan siswa yang tidak hanya berasal dari Yogyakarta tetapi juga dari beberapa kota lain seperti Probolinggo dan Malang itu tampil dengan mengenakan busana layaknya penjual jamu gendong keliling, lengkap dangan wadah dari anyaman bambu yang biasa digunakan untuk membawa botol-botol jamu.
Siswa juga membawa replika nisan yang bertuliskan 'Telah Dipaksa Mati Jamu, 1 Maret 2013' sebagai simbol turunnya citra jamu gendong tradisional.
Menurut koordinator aksi, Suharno, jamu gendong merupakan warisan budaya masyarakat Indonesia. Namun seiring perkembangan waktu, jamu gendong mulai ditinggalkan masyarakat dan mereka beralih ke jamu produksi pabrikan.
"Jamu pabrikan telah menggeser pamor jamu gendong, sehingga kita ajak masyarakat untuk kembali meminum jamu gedong," tandasnya.
Padahal, menurut dia, jamu tradisional juga memiliki khasiat yang tidak kalah manjur dengan jamu tradisional pabrikan karena selain bisa digunakan untuk menjaga kebugaran tubuh juga bisa digunakan untuk pengobatan.
Di Kabupaten Bantul, lanjut dia, masih banyak masyarakat yang menjual dan mengonsumsi jamu gendong, namun tradisi tersebut sudah mulai hilang di Kota Yogyakarta.
Melalui aksi tersebut, pihaknya berharap pemerintah bisa memiliki regulasi yang bisa mendorong tumbuhnya pengusaha jamu tradisional nonpabrikan termasuk menjaga keberadaan penjaja jamu gendong agar tidak kalah bersaing dengan jamu tradisional pabrikan yang sudah dikemas dengan baik.
Setelah melakukan aksi orasi dan teatrikal di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, ratusan siswa tersebut kemudian menuju sejumlah instansi pemerintah untuk menjual jamu yang mereka produksi sendiri.
"Uang hasil penjualan jamu akan digunakan untuk dana sosial dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan," kata Suharno.
======================================
Sumber : Republika
Ratusan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Yogyakarta memperingati peristiwa tersebut dengan aksi mengajak masyarakat kembali melestarikan budaya minum jamu gendong.
Aksi yang bertajuk 'Serangan Oemoem Jamu Gendong' ini digelar di titik nol kilometer Yogyakarta, Jumat (1/3). Ratusan siswa ini berasal dari SMK Amanah Husada dan LPK Amanah Husada Yogyakarta.
Dalam aksinya, ratusan siswa yang tidak hanya berasal dari Yogyakarta tetapi juga dari beberapa kota lain seperti Probolinggo dan Malang itu tampil dengan mengenakan busana layaknya penjual jamu gendong keliling, lengkap dangan wadah dari anyaman bambu yang biasa digunakan untuk membawa botol-botol jamu.
Siswa juga membawa replika nisan yang bertuliskan 'Telah Dipaksa Mati Jamu, 1 Maret 2013' sebagai simbol turunnya citra jamu gendong tradisional.
Menurut koordinator aksi, Suharno, jamu gendong merupakan warisan budaya masyarakat Indonesia. Namun seiring perkembangan waktu, jamu gendong mulai ditinggalkan masyarakat dan mereka beralih ke jamu produksi pabrikan.
"Jamu pabrikan telah menggeser pamor jamu gendong, sehingga kita ajak masyarakat untuk kembali meminum jamu gedong," tandasnya.
Padahal, menurut dia, jamu tradisional juga memiliki khasiat yang tidak kalah manjur dengan jamu tradisional pabrikan karena selain bisa digunakan untuk menjaga kebugaran tubuh juga bisa digunakan untuk pengobatan.
Di Kabupaten Bantul, lanjut dia, masih banyak masyarakat yang menjual dan mengonsumsi jamu gendong, namun tradisi tersebut sudah mulai hilang di Kota Yogyakarta.
Melalui aksi tersebut, pihaknya berharap pemerintah bisa memiliki regulasi yang bisa mendorong tumbuhnya pengusaha jamu tradisional nonpabrikan termasuk menjaga keberadaan penjaja jamu gendong agar tidak kalah bersaing dengan jamu tradisional pabrikan yang sudah dikemas dengan baik.
Setelah melakukan aksi orasi dan teatrikal di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, ratusan siswa tersebut kemudian menuju sejumlah instansi pemerintah untuk menjual jamu yang mereka produksi sendiri.
"Uang hasil penjualan jamu akan digunakan untuk dana sosial dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan," kata Suharno.
======================================
Sumber : Republika

0 komentar:
Posting Komentar