Senin, 30 Juni 2014

"64 tahun berpulangnya; sang perintis yang terlupakan"
     
Bahwa kelak akan tiba waktunya Hindia berdiri sendiri sebagai bangsa, sudah pasti! Sejarah tak dapat membuktikan adanya satu bangsa pun yang dikuasai secara abadi, Semoga perpisahan yang tak terelakkan itu bersahabat sifatnya, agar sesudahnya tetap berlangsung jalinan unsur-unsur budaya yang nyaman antara Hindia dan Belanda yang berabad-abad lamanya pernah dipersatukan oleh sejarah”
(Ratulangie, November 1913)


Hari ini barangkali hanya sedikit dari kita yang mengheningkan cipta untuk mengenang ketangguhan salah seorang patriot terbaik asal Minahasa, yang telah meninggalkan cinta, cita-cita, dan rajutan perjuangannya menghadap sang pencipta 64 tahun silam tepatnya tanggal 30 Juni 1949, Ia adalah Sam Ratulangie. Sebagai seorang perintis kemerdekaan ada rekam jejak yang hilang baik di literature sejarah, maupun di dalam gelaran discourse keilmuan pemikiran para the founding fathers, dan di bangunan amnesia itulah sebagian besar generasi saat ini hidup dan menghirup ‘udara kotornya’. Siapa dan bagaimana kiprahnya…?
Persis diantara pertanyaan dan kondisi empiris tersebut artikel yang dirangkum dari buku dengan judul yang sama ini saya ‘selipkan’ diantara demam degradasi universalitas nilai luhur bangsa Indonesia.

Sejarah Melahirkannya
Pada tanggal 5 November 1890 lahir seorang bayi yang di beri nama Gerungan Saul Samuel Jacob Sam Ratulangi, di bumi minahasa (teunkuramber-tondano). Ayahnya bernama Jozias Ratulangie dan ibunya bernama Augustina Ratulangie Gerungan. Adik dari Kayes dan Wulan ini tumbuh di tengah kondisi jaman dimana mulai gencarnya invasi kolonialisme dan imperialism di Indonesia (Hindia kala itu) tak terkecuali di bumi dimana ia dilahirkan yaitu Minahasa. Sehingga hal itu menjadi dorongan yang kuat untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya agar dapat memperjuangkan serta mencerdaskan bangsanya melalui ilmu pengetahuan. Sam Ratulangi pun tumbuh dan menjadi tipical intelektual yang harmonis, disetiap baris paragraf uraian penanya melukiskan jernih pikirannya dalam menembus akar persoalan. Ia menulis, membingkai, dan memimpin berbagai gerakan perintis sejak menjadi pelajar di Belanda dan Swiss, hingga kembali ke tanah air.

“Ingatlah tuan-tuan! keterpesonaan dengan Eropa telah selesai! Orang Indonesia sekarang berdiri di hadapan Anda bukan lagi sebagai pengemis, melainkan berpijak pada kodrat terdalamnya pada hak-haknya sendiri, telah berdiri bangga, sejajar dengan Anda, Indonesia menerima dengan penuh rasa terima kasih bantuan Anda yang sangat berarti dari luar, namun hanya percaya pada kekuatannya sendiri! masa depan kami tidak akan tegak atau runtuh dengan kerja sama” 

(Indië in de Nederlandsche Studentenwereld 1918: 19-Sam Ratulangie)

    Dimulai dari Salah satu brosurnya yang menggegerkan publik Belanda kala itu berjudul Serikat Islam (1913), ia menggelorakan soal kemanusiaan yang tertindas, tentang suatu solidariteit bumi putra yang dikebiri haknya, dan Serikat Islamsebagai salah satu contoh kekuatan yang akan bangkit melawan kolonialisme Belanda di kemudian hari.
Sepanjang hidup dan perjuangannya Sam selalu menjadi lawan yang ‘tajam’ bagi pemerintah Belanda, ia menawarkan perpisahan yang terhormat kepada Belanda namun tak pernah bisa diterima Belanda. sebagaimana diungkapkan Hatta dalam pledoinya ketika di depan pengadilan di Den Haag pada tahun 1921 bahwa masalah kemerdekaan Indonesia bukan een probleem van ja of neen, maar een probleem van vroeger of later, bukan soal ya atau tidak akan tetapi soal lebih dini atau terlambat, maka itu lebih menjadi gema dari apa yang sudah dikatakan Sam Ratulangi delapan tahun terdahulu (ketika di Indische Vereeniging).
Sam terus menenun dan tumbuh menjadi jurnalis-publisistik, lewatNationale Commintern surat kabar yang didirikannya sendiri setelah sebelumnya tergabung dalam surat kabar Penindjauan bersama Amir Sjarifudin, memperlihatkan kemahirannya memainkan kata, bahasa dan istilah yang sulit ditebak pers Belanda. Lewat karyanya yang lain, yakni Indonesia in de pacific-1937, telah memperlihatkan bagiannya yang lebih mempesona, jauh sebelum banyak yang mengkaji soal pasifik, ia dengan jeli menelaah posisi Indonesia di pasifik, dalam bukunya ini Sam memberikan sudut pandang yang menjadi embrio dialog ekonomi-politik pasifik. 

   Garis pemikiran yang ditariknya dengan tegas tersebut, membuatnya berwibawa dihadapan tokoh-tokoh seperti Noto Soeroto (Indische Vereeniging), Soewardi Soerjaningrat, Tjipto Mangunkusumo, dan Douwes Dekker (Indische Partij), H. Thamrin, dan Soetardjo (Volksraad). Sam selalu memposisikan kritiknya berada pada sudut pandang epistemic, dalam pidato-pidatonya ia menawarkan independensi governance yang menyangkut soal desentralisasi dan devolusi. Sam juga menjadi penghubung antara golongan republiken dan federalis, Dengan ‘jernih’ dalam pernyataan yang dikenal dengan "Manifes Ratulangi" (Yogyakarta 10 November 1948) ia menyerukan bahwa yang terpenting adalah persatuan dan kesatuan.

Atas kiprahnya yang prestisius itu; Soekarno sebagai pribadi mengakuinya sebagai gurunya di lapangan politik, dan ketika menyerahkan secara simbolis Patung Dr. G.S.S.J Ratulangi dalam acara penutupan Musyawarah Pemuda Kawanua di Gedung Pramuka Jakarta, 18 Agustus 1960, memberi pengakuan yang mendalam bahwa “Dr. Ratulangi, alangkah besarnya manusia ini. Tiap-tiap bangsa mempunyai orang-orang ‘besar’, bukan dalam arti pangkat atau kedudukan, tetapi tiap-tiap bangsa mempunyai orang besar dalam arti ‘nilai’, ‘isi’, ‘kwaliteit’. Bangsa Indonesia mempunyai Dr. Ratulangi. Maka oleh karena itulah pantas dan wajib sekali bangsa Indonesia mengagungkan Dr. Ratulangi itu..”. “…Saudara-saudara Levensversekering Maatchappij itu ada tulisan Indonesia pertama kali dengan terang- satu-satunya orang Indonesia yang mengemukakan ialah Ratulangi.
Perkataan Indonesia itu bukan sekedar perkataan saja, tetapi adalah satu idee, idee persatuan bangsa, ’Ideeku’, sebagaimana kata Ratulangi, “…supaya kepulauan ini yang beratus-ratus, beribu-ribu, bersatu dan diberi satu nama, dan nama ini, bersama-sama dengan pemuda-pemuda, pemudi-pemudi yang ada di ‘Eropa’, pada waktu itu, ‘telah kami tetapkan;Indonesia”.


Sitou Timou Tumou Tou
"Manusia hidup untuk menghidupi-mendidik-menjadi berkat orang lain"


“Setiap bangsa  terhormat menerima pusaka suci kebudayaan dan tradisi dari pendahulunya. Kita harus melestarikan budaya dan tradisi Minahasa dengan segenap jiwa kita, karena jiwa itu sendiri terdiri dari bukan dari siapa kecuali dari budaya dan tradisi itu sendiri. Sekalipun budaya dan tradisi itu bisa berubah dan akan dimoderenkan, akan tetapi dasar atau benih (jati diri) tidak bisa diubah karena secara sosial telah terkonstruksi dalam darah dan hati bangsa kita (Minahasa)”
"RATULANGIE", "Minahasa Culture and Traditions"
(Fikiran Rakjat 31 Mei 1930)

     Sebagian besar para Sejarawan, Sosiolog, dan Antropolog bersepakat bahwa “martabat” dan “kehormatan” dari suatu kebudayaan itu ditentukan oleh nilai yang termanifestasikan secara subjektif dalam bentuk sikap dan tindakan. Maka dapatlah dipahami bahwa posisi nilai dalam kebudayaan sangat esensial. Klukholn dan Kroeber yang menetapkan the essential core of culture consist of traditional, (i.e. historically derived and selected) ideas and specially their attached values, sementara Matthew Arnold menulis, culture ought to be the study of perfection, consisting in an inward condition of the mind and spirit, not an outward set of circumstances, atau de la Briere yang menyatakan kebudayaan sebagai, a set of material, intellectual and moral values and conditions wich make it possible  and even easy for the human community to expand and develop harmoniously.
     Manusia dan kebudayaannya sejatinya tak dapat dipisahkan sebagai satu kesatuan historis-filosofis, filosofis-historis. kita dapat mengetahui bahwa proses peresapan nilai tidak hanya menegaskan tentang nilai-nilai relative yang eksis didalam kehidupan bersama, tetapi juga menunjukkan bahwa relativisme nilai yang menciptakan proses individualisasi sesungguhnya menegaskan munculnya ‘kekuatan baru’, dimana segala perjuangan Sam telah bertransformasi di level metafisis yang terkonstruksi dari spiritual-simbiosis budaya Minahasa. Etnisitas-regional sebagai sumber kohesivitas yang inheren memperlihatkan pemikirannya telah terbangun dari aspek-aspek kebudayaan besar para leluhurnya yang bertumpu pada natural reason (akal natural).
   Kemudian secara jernih digali lalu dirumuskannya menjadi suatu prinsip hidup universal yakni tentang kemanusiaan yang hakiki.Sitou Timou Tumou Tou sebagai konsep sikap, Konsep nilai budaya, secara esensial mengandung ide-ide atau nilai-nilai dasar yang saling bertautan, menjiwai, mengisi serta saling memperkuat menjadi satu kesatuan yang utuh, ia telah diformulasikan oleh Sam menjadi sumber wawasan dan pandangan hidup yang universal serta mengandung aspek keilmuan.
   Sam Ratulangie memang berada pada frame berpikir para fenomenolog, disana ia juga mengukir nasionalismennya berada dalam paripurna Mahatma Gandhi-my nationalism is humanism. Tepat disitulah ia tumbuh dengan perasaan yang mendalam atas bangsanya, dan persis disitu Sam Ratulangie menua dan meninggalkan cita-citanya yang belum usai ditenunnya, ia telah meninggalkan cinta dan buah hati, dan negerinya laksana pelangi yang selalu indah meski tampak samar dari sudut puing-puing sejarah perjuangannya yang mulai terlupakan.

           Susanto Polamolo, S.H., cM.H
Mahasiswa Pascasarjana (MIH) Univ. Slamet Riyadi Surakarta
Direktur Program Pada Pusat Kajian Hukum Tata Negara Fakultas Hukum
Univ. Proklamasi 45 Yogyakarta.
Pendidik di SMK Kesehatan Amanah Husada Yogyakarta
Bag. LitBang Berdikari Institut Yogyakarta

0 komentar:

Posting Komentar

Site search

    Most Viewed

    DOKUMENTASI KEGIATAN

     photo IMG_8281_zpsca62fcf1.jpg" />  photo IMG_8219_zpsebc861ab.jpg" />  photo IMG_8248_zpse073901f.jpg" />  photo IMG_8263_zpsd9eb90a4.jpg" />  photo 10426799_638337532916182_5484792308582205800_n_zpsd9523f98.jpg" />  photo 10250227_10201013365215141_25735085492743884_n_zpsdfa1fefb.jpg" />  photo IMG_8279_zpsc0205111.jpg /> SMK Kesehatan Amanah Husada photo 10704054_1469055396703500_1956008096557276855_n_zps82573051.jpg" /> SMK Kesehatan Amanah Husada photo 1238997_642449862443561_751164459_n_zpsed5e0c85.jpg" /> SMK Kesehatan Amanah Husada photo 1604467_687213998028535_2136344001565546235_n_zps0ba8e53f.jpg" /> SMK Kesehatan Amanah Husada photo 149369_4678974710543_8926531714751967799_n_zpsf3b4b4af.jpg" /> SMK Kesehatan Amanah Husada photo 406335_371629429571895_1425540720_n_zpse6d15991.jpg" />  photo n2_zpscedf3029.jpg" />  photo n5_zps1b0e9a07.jpg" />  photo n1_zps960b4fdc.jpg" />  photo n3_zps061a6914.jpg" />  photo IMG_20141023_125152_zpsb878e4e1.jpg" />  photo 10414453_683892545027347_2363782841499240901_n_zpse3464e22.jpg" />  photo 10428472_687573184659283_7049797716140929296_n_zps75943aa2.jpg" />  photo don_zps66b4107b.jpg" />  photo P7170216_zpse9692883.jpg" />  photo 10464410_681561381927130_2197933600461464585_n_zps54f35868.jpg" />  photo P7150049_zps58e3c6fe.jpg" />  photo P6060350_zpscd497909.jpg" />  photo P6060335_zps2d708974.jpg" />  photo P6060341_zps2c9c905e.jpg" />  photo P7150014_zps90142b08.jpg" />  photo DSCF0450_zpsc9ec1034.jpg" />  photo IMG_20130824_150750_zpse020e332.jpg" />  photo IMG_20130828_203034_zpsadc1d158.jpg" />  photo IMG01353-20140422-1125_zpsa955ad90.jpg" />  photo IMG00728-20140211-1605_zpscae8815a.jpg" />  photo IMG_20130910_175053_zpscf9c48b4.jpg" />  photo 2013-01-15123303_zps3adfe997.jpg" />  photo 2013-03-01085225_zps5ac161c9.jpg" />  photo DSCF0353_zpsfbe29a8e.jpg" />  photo DSCF0255_zps70d3c28d.jpg" />  photo DSCF0269_zps055895ad.jpg" />  photo 2014-01-22082033_zps90b12f87.jpg" />  photo 11022013005_zpsd80de2b8.jpg" />  photo 2014-01-22080110_zps34041af3.jpg" />  photo 2013-01-15123345_zps9e91d17e.jpg" />  photo 2012-12-21102606_zpsaa8084fc.jpg" />  photo SAM_2876_zpsed3aa4d8.jpg" />  photo P9220122_zps3af158c5.jpg" />  photo 1340_3208jpg_zpsc2793d18.jpeg" />  photo P9220151_zpsb15d6ced.jpg" />  photo P9220090_zps5cc21a6e.jpg" />  photo P9220165_zps9da83193.jpg" />  photo 10426799_638337532916182_5484792308582205800_n_zpsd9523f98.jpg" />  photo 10403643_1502944033274446_6026779843732864812_n_zps3c77f181.jpg" />  photo 1779152_587226691360600_890922827_n_zps9255127d.jpg" />  photo 10450837_690954300987838_4186451458288298117_n_zpsa3a63ea7.jpg" />  photo 10418185_694590487290886_1441304336599827765_n_zpscfb8aaa3.jpg" />  photo 10250227_10201013365215141_25735085492743884_n_zpsdfa1fefb.jpg" />  photo bung-karno_zps00713e8d.jpg" />  photo 10414638_685117991571469_5434067804690704569_n_zps364535e4.jpg" />  photo 10359410_681145978635337_5569345339855338703_n_zps9cbedcc9.jpg" />  photo 10414453_683892545027347_2363782841499240901_n_zps9c1f275d.jpg" />  photo 1932369_681145281968740_7614338468394882381_n_zpsf0844def.jpg" />  photo 1908406_685117951571473_7726508496526289822_n_zpsf9c23771.jpg" />  photo 1662320_685118541571414_9111852935514563041_n1_zpsfa142139.jpg" />  photo 1654126_278445662339719_6494091209504694529_n_zps3ac1428c.jpg" />  photo 10644902_1525425821026267_7138398122127649244_n_zps2572621c.jpg" />  photo 10620699_278446075673011_8656118012458259951_n_zps4839c9c5.jpg" />  photo 10701934_294335114084107_6528506109308040591_n_zps441a39dd.jpg" />  photo 10628302_685117954904806_4650668956319010499_n_zpscceecf59.jpg" />  photo 10620612_681562128593722_866124745239978693_n_zps1ae554b8.jpg" />  photo 10629710_278445789006373_7219651293568506483_n_zps414a1021.jpg" />  photo 10556350_685118554904746_6448014567270293638_n_zps7f178ef2.jpg" />  photo 10593122_681145301968738_1993795391353480064_n_zps4f1de6f6.jpg" />  photo P9220043_zps50f83a08.jpg" />  photo 10428472_687573184659283_7049797716140929296_n_zpse0b602b4.jpg" />  photo IMG_20141110_074537_zpse7fe76b0.jpg" />  photo IMG_20141110_075151_zpsa6f01568.jpg" />

    ALAMAT

    SMK KESEHATAN AMANAH HUSADA BANTUL
    Jl. Ngipik Raya No. 493 Karang Turi Baturetno Banguntapan Bantul Yogyakarta

    SMK KESEHATAN AMANAH HUSADA PEMALANG
    Jl. Pemuda No. 95 Pemalang Jawa Tengah